Syndrome Baby Blues

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

KASUS seorang ibu yang membunuh bayinya yang baru berusia empat bulan di Tangerang belum lama ini memunculkan tanda tanya, baby blues atau depresikah? Lantas, apa beda keduanya?

Tuhan menciptakan tubuh manusia begitu sempurna dan unik. Salah satunya sistem hormon yang turut memengaruhi sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan. Ketidakseimbangan hormon dapat mengacaukan mekanisme kerja tubuh kita, termasuk memengaruhi mood (emosi).

Hal inilah yang dialami para ibu pasca-melahirkan. Perubahan hormon yang terjadi pada 3-4 hari setelah persalinan memicu mood menjadi lebih sensitif, rasa sedih dan ingin menangis tanpa sebab. Padahal, seharusnya ibu tengah berbunga-bunga karena si mungil yang dinanti-nanti selama sembilan bulan sudah ada dalam dekapan. Kondisi yang mungkin terasa “aneh” inilah yang disebut baby blues syndrome.

Staf pengajar Bagian Psikiatri FKUI/RSCM Jakarta, dr Suryo Dharmono SpKJ menuturkan, baby blues merupakan fenomena normal yang dialami sekitar 70 persen wanita selepas melahirkan. Apalagi wanita yang baru melahirkan pertama kali, biasanya masih gugup menghadapi perubahan peran dan fungsinya sebagai ibu baru. Di satu sisi, hatinya terisi dengan kebahagiaan yang membuncah, di sisi lain fluktuasi mood menyebabkannya “feeling blue”.

Sindrom baby blues sering kali tidak disadari, baik oleh wanita yang bersangkutan maupun orang lain di sekitarnya. Wanita yang mengalami baby blues biasanya ditandai dengan gejala khas berupa depresi ringan, perasaan yang tidak menentu (moody), mudah sedih, murung dan rasa ingin menangis. Beberapa ada juga yang disertai gejala sulit tidur, sulit berkonsentrasi, sering bingung, dan pikiran yang terlalu mengkhawatirkan bayi atau ragu akan kemampuannya mengurus bayi.
Namun, tidak perlu risau karena kondisi ini umumnya hanya berlangsung singkat (biasanya pada minggu pertama).

“Pada sindrom baby blues, gejala yang muncul mungkin membuat tidak nyaman, tapi tidak sampai mengganggu fungsi si ibu. Artinya, si ibu tetap mau menyusui. Berbeda dengan post partum depression yang gejalanya lebih berat dan biasanya sudah mengganggu fungsinya sebagai ibu,” papar Suryo.

Meski sama-sama terjadi pada masa nifas (40 hari pascamelahirkan), post partum depression (PPD) alias depresi pascamelahirkan biasanya berlangsung lebih lama dengan gejala yang lebih lengkap dan mengganggu. Antara lain rasa bersalah atau berdosa, gugup, ceroboh, mudah marah, badan lemah dan lesu. Hal yang mengkhawatirkan jika ibu sampai tidak ada minat menyusui bayinya atau bahkan enggan menyentuh si kecil.

“Pada kasus yang berat, bisa muncul gejala psikotik seperti rasa putus asa, tidak berdaya, delusi atau waham, dan halusinasi seperti mendengar suara-suara aneh,” ujar Suryo seraya menyebutkan prevalensi PPD cukup rendah dibanding baby blues, yakni sekitar 10 persen-25 persen. Mantan model sekaligus aktris, Brooke Shields, juga pernah “berperang” melawan gejolak PPD.

Sementara itu, salah seorang konselor PPD di RS Providence Alaska, Amerika Serikat, Margi Clifford, mengungkapkan, hampir 25 persen ibu yang baru melahirkan di Alaska mengalami gangguan mood serius alias PPD. Untuk itulah, ia berpesan kepada para anggota keluarga yang mendampingi (terutama suami) agar mencermati bilamana terjadi gelagat “aneh” pada ibu yang baru melahirkan. Sebaliknya, bagi si ibu manakala merasakan ketidaknyamanan atau “keanehan” pada dirinya, hendaknya bercerita atau mengungkapkannya, minimal pada suami dan keluarga terdekat.

“Dukungan suami, mertua, keluarga, dan teman sejak awal proses melahirkan akan membantu si ibu menghadapi kondisi baby blues yang mungkin dialaminya,” katanya.

Adapun pada kondisi yang lebih serius, mungkin diperlukan konseling dengan psikiater. Menurut Suryo, jika sejak masa kehamilan gejala depresi sudah tampak dan mengganggu, boleh saja diberikan obat antidepresan, asalkan tidak dalam trimester pertama kehamilan. Sementara pada PPD, antidepresan akan diresepkan oleh dokter jika depresi yang dialami sudah tampak serius. “Lama pemberian sekitar dua bulan. Jika selepas itu mood-nya membaik, obat bisa distop. Selama minum antidepresan, ibu juga tidak boleh menyusui,” sebutnya

sUMBER : Okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *