Imunisasi Pada Bayi

IMUNISASI selama ini identik untuk memperkuat daya tahan tubuh bayi dan anak-anak. Namun, kini program tersebut juga ditujukan bagi remaja dan dewasa.

Kesehatan adalah harta yang teramat berharga. Agar tubuh senantiasa sehat, diperlukan sistem imunitas alias daya tahan tubuh yang kuat melawan virus atau bakteri penyebab penyakit. Untuk itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemberian vaksin lewat program imunisasi merupakan investasi bagi kesehatan seseorang seumur hidup. Bayangkan, setiap tahun sekitar 4,5 juta bayi lahir di Indonesia.

Jangan sampai masa depan bayi-bayi mungil ini menjadi suram karena luput diimunisasi. Padahal, setetes vaksin mungkin dapat menyelamatkannya dari keganasan penyakit yang dapat berujung kecacatan atau kematian.

Imunisasi adalah cara termudah dan paling efektif untuk mencegah kematian dan kecacatan di usia kanakkanak. Sayangnya, lebih dari 40 persen anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi secara lengkap,” ujar kepala perwakilan UNICEF di Indonesia, Gianfranco Rotigliano, dalam peluncuran kampanye imunisasi “Kemitraan untuk Menyelamatkan Kehidupan Anak” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sejak lama, penyakit infeksi memang telah menjadi sorotan. Di Indonesia misalnya, campak membunuh 30.000 anak setiap tahun. Demikian halnya hepatitis yang menyerang lebih dari 20 persen anak di beberapa daerah.

Pada 2005, untuk pertama kalinya dalam dekade ini ratusan anak terjangkit polio yang berisiko lumpuh, cacat, bahkan meninggal. Di Indonesia, program imunisasi telah berjalan sekitar 30 tahun lebih dan terbukti berhasil menurunkan angka penyakit mematikan yang dapat dicegah dengan imunisasi. Antara lain campak, polio, difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), tuberkulosis, dan hepatitis B. Haemophilus influenza tipe B dan pneumokokus juga dapat dicegah sejak dini melalui imunisasi.

Berdasarkan hasil pemberian vaksinasi dari 1992?1997, Indonesia mengalami penurunan jumlah penderita difteri, pertusis, campak, dan tetanus. “Pemberian imunisasi dapat mencegah sekitar 2,7 kematian bayi per tahun,” kata dokter spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta, Dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K).

Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri, misalnya imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (antitetanus serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan.

Ketua Tim Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Prof DR Dr Sri Rezeki Hadinegoro SpA(K) mengungkapkan, program imunisasi telah mengalami perkembangan dalam sepuluh tahun terakhir. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah merekomendasikan pemberian vaksin HPV mulai usia 10 tahun. Vaksin ini belakangan menjadi populer, terutama di kalangan ibu-ibu, mengingat fungsinya sebagai pencegah kanker serviks (leher rahim).

Namun, satgas imunisasi IDAI, Dr Soedjatmiko SpA(K), menuturkan, pemberian vaksin HPV tidak perlu menunggu sampai remaja beranjak dewasa dan siap menikah. Karena, jika diberikan sejak dini di usia remaja, tubuh akan merespons vaksin HPV dengan lebih baik, sehingga kekebalan tubuh dalam melawan penyakit lebih optimal.

Imunisasi di kalangan remaja belum terlalu populer, padahal sangat penting,” ungkapnya seraya memaparkan bahwa remaja perlu diproteksi dari berbagai penyakit berbahaya.

Terkait kekhawatiran akan efeksampingimunisasi, orangtua tidak perlu panik atau ketakutan ketika bayinya mengalami batuk pilek biasa, demam ringan, atau diare ringan setelah mendapat imunisasi, karena itu adalah reaksi yang wajar dan sifatnya sementara saja

Sumber : okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *